[Boyfriend Fanfic] Jeju Spring Moment (Part 6)

Gambar

Tittle : Jeju Spring Moment (part 6)

Main Cast :

– Jo Young Min

– Jang Na Raa (OC)

– Jang Jae Beom (Nara’s Older Brother) (OC)

Author : @Nesada on twitter

Genre : Angst

Rating : PG-17

Cover Model :

– Jo Young Min as Jo Youngmin

– Kim Soo Eun as Jang Na Raa

Original Soundtrack :

– Hitt – Good Night

– IU – Good Day

Fanfics Number : 1st

Realise : January 2012

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

Kisah seorang selebriti yang telah bosan dalam dunia entertainmentnya, hingga ia melarikan diri dan bertemu dengan seseorang yang sama sekali tak mengenalnya sebagai artis, bagaimanakah kisahnya ??

Let’s read saja, semoga suka ^_^

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –  – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

Jeju Spring Moment (Jeju Saat Musim Semi)

            “Young, young….. kenapa diam ? apa ada masalah” ucap Nenek membangunkanku dari lamunan.

             “ehh, tidak nenek. Sebenarnya aku….” jawabu lagi-lagi terputus. “hallo nenek, nenek !”. telephone itu mati, mungkin karena uang yang aku masukkan kurang sehingga tidak bisa berlama-lama telephone. Lagi-lagi aku sial !

             “bagaimana ? nenekmu akan menjemputmu ?” tanya Nara ketika aku baru saja keluar dari box telephone.

             “uangku tidak cukup untuk telephone”

           “kalau begitu pakai uangku saja” ucapnya sambil memperlihatkan uang 10000 won padaku. Aku benar-benar tidak enak padanya, kenapa dia selalu baik padaku, dia sudah mengantarku, sekarang dia memberikan uangnya untukku. Ohh tidak aku terasa kecil sekali jika disisinya, dia baik sekali seperti malaikat, dan aku seperti iblis yang selalu menyusahkannya. Sehingga aku putuskan untuk menolak pemberiannya kali ini, “tidak, tidak usah”

             “wae ?” (kenapa ?)

             “geugeon jung-yohaji anh-ayo” (tidak apa-apa) jawabku singkat. “naneun jajengongeleul tago baeugo sipdamyeon, dangsin-eun nal galeuchayeo sip-eun ? (aku ingin belajar naik sepeda, apa kau mau mengajariku ?) aku malu terus terusan memboncengmu !”

            “apa tidak salah ucapanmu itu ?”

            “tidak !”

             Diperjalanan pulang, sepanjang tepian sungai dia bersusah payah mengajariku naik sepeda, beberapa kali aku akan terjatuh, tapi dia selalu memegangiku. Aku merasa, aku ini sangat bodoh, naik sepeda saja tidak bisa, sebenarnya aku takut terjatuh, tapi Nara selalu bilang ‘kalau semakin sering jatuh nanti akan semakin bisa’, ucapannya lama-kelamaan merasuk ke otakku, aku mulai tidak takut. Aku tertawa keras, Nara juga, aku tertawa karena kebodohanku, tapi Nara dia tertawa kenapa ?

             Hahaha aku tak peduli alasan Nara ikut tertawa, yang penting hari ini aku senang sekali. Inilah hidup yang aku cari, hidup yang penuh tawa tanpa ada rasa tegang, takut ataupun keterpaksaan. Aku ingin selalu begini, aku ingin melupakan hidupku sebagai seorang artis yang selalu dituntut untuk tampil sempurna, aku tidak suka. Aku ingin seperti ini terus, meski aku sampai tidak pernah ganti baju selama 1 bulan pun tidak apa, haha seperti hari ini,  baju yang aku pakai belum pernah ganti selama 1 minggu, memalukan memang, tapi lagi-lagi aku tidak peduli, ada Nara disampingku, itu sudah cukup, dia bahkan tidak pernah mengeluh penampilanku yang acak-acakan.

             Setelah aku mulai merasa bisa aku menantang diriku sendiri, apakah aku bisa memboncengkan Nara, seperti yang dilakukannya ?

             “Nara, ayo naik !”

             “apa ? apa kau tidak salah dengan ucapanmu itu ?”. pertanyaan yang sama ketika aku berkata aku ingin belajar sepeda memang, sepertinya dia sangat meragukanku, tapi aku mencoba meyakinkannya bahwa aku sudah bisa.

            “halah, aku sudah bisa. Lagipula apa kau mau pulang dengan berjalan kaki ?”

             “tapi…. apa kau yakin ?”

             “iya” ucapku dengan sombong. “cepat naik !”

             Segera Nara naik, dia duduk miring, wajar saja dia kan memakai rok, dan…… ternyata dia berat juga, meski badannya kurus tapi berat badannya mungkin segunung, hahah menurutku, dia mengaitkan tangannya dipinggangku. Awalnya lancar-lancar saja, tapi entah setan apa yang iri dengan keromantisan kami sehingga stang sepeda yang aku kendalikan mulai belak-belok tidak karuan, tidak hanya itu sepedanya juga mulai tidak bersahabat, berkali-kali akan jatuh, tapi untung saja kakiku panjang jadi aman-aman saja menopangnya. Yang lebih memalukan adalah ketika aku mencoba menengok kebelakang, aku ingin melihat ekspresi wajahnya saat naik dibelakangku, pasti lucu sekali. Dan tanpa aku sadari, ternyata sepeda itu belok kearah samping kanan dan meluncur dengan cepatnya kearah pohon teh-tehan yang dibentuk bulat-bulat di samping lapangan sepak bola itu, duuaaarrrr !!! sepedanya langsung jatuh kearah samping kiriku, tubuhku langsung jatuh terlentang ke aspal yang keras, ‘uhh sakit’ pikirku sambil menutup mata, tiba-tiba saja ada sesuatu yang jatuh tepat di dadaku, ‘astaga berat sekali’, aku membuka mataku dan melihat kearah benda itu, ehh ternyata Nara, astaga dia benar-benar berat, badanku bisa hancur kalau terus tertindih seperti ini, tapi tidak apa sebenarnya, aku senang kalau Nara tiduran di dadaku ini, hehe meskipun berat.

             “apa kau tidak apa-apa ?” ucapnya sambil beranjak berdiri.

             “hah… tidak apa-apa” ucapku sambil mencoba untuk duduk, tapi tiba-tiba “aauuu sakit”

             “mana yang sakit ?”

        “punggungku” ucapku sambil memegangi punggungku yang lumayan sakit, dan seketika ia langsung mengusap punggungku, aku sebenarnya sangat tidak enak, dia terlalu baik. Aku jadi bingung harus membalasnya dengan apa. Astaga…….

             “apa disini ?”ucapnya membangunkan lamunan, sambil mengusap bagian bawah leherku.

             “ahh sudahlah, jangan terlalu baik padaku. Harusnya kan aku yang bertanya apa kau baik-baik saja. Aku kan yang sudah menjatuhkan sepeda. Kenapa malah kau yang bertanya ?”

             “tapi kau yang terluka………”

             “aku kan laki-laki terluka sedikit kan tidak masalah !”

             Hari sudah semakin sore, matahari sudah mulai turun seperti di acara Teletubies kesukaanku saat kecil, warna merah Jingganya indah sekali , benar-benar terlihat indah ketika kami melintasi tepian pantai Jeju, yah sebenarnya kurang romantis kalau menikmati senja yang menakjubkan itu sambil bersepeda, apalagi cara bersepedanya belak belok, aku jadi kurang konsentrasi menikmati senja yang menakjubkan itu karena aku harus fokus ke jalan agar kejadian tadi tak terulang lagi, aku malu seribu malu kalau harus terjatuh lagi didepan Nara.

——— Youngmin POV End ———-

 

Lanjut ??

Ya…. liat Chapter berikutnya….

Advertisements

, , ,

  1. 1. [Boyfriend FF Library] Jeju Spring Moment | LIMIT LIGHT | Nesada 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: