[Boyfriend Fanfic] It’s War : Death to Love (Part 12/18)

Tittle : It’s War : Death to Love (Part 12/18)

Main Cast :

–          Jo Youngmin

–          Han Jiwoon (OC)

–          No Minwoo

–          Kang Sora (OC)

Author : @Nesada on Twitter

Genre : Angst

Rating : PG-17

Cover Model :

– Jo Young Min as Jo Youngmin

– Kang Sora as Han Jiwoon

– No Minwoo as No Minwoo

– Yui Horie as Kang Sora

Original Soundtrack :

–          Mblaq – It’s War

–          Mblaq – It’s War Piano vers

–          Boyfriend – Boyfriend Piano vers

Fanfics Number : 4 (Fourth)

Realise : March 2012

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

Terinspirasi dari MV Mblaq yang berjudul It’s War, kisah segi empat antara masa lalu, sahabat dan kekasih. Bagaimana kisahnya ?

Ok! Let’s read yah….

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

It’s War (Perang)

“ada apa Woo ?” tanya hyung dalam telephone

“cepatlah pulang hyung, Jiwoon… Jiwoon….”

“kenapa dengan Jiwoon… ?”

“Noona, dia sedang sakit keras. Cepatlah pulang, Noona sangat membutuhkanmu”

“apa ! bagaimana bisa… baik, aku akan pulang…”

 Sudah 1 jam berselang, akhirnya aku melihat hyung datang dengan tergesa-gesa, ternyata dia masih peduli dengan Jiwoon, faktanya, baru saja aku katakan kaalu Jiwoon tengah sakit, dia langsung datang. Aku semakin sadar, aku memang tidak bisa menggantikan posisi hyung di hati Jiwoon.

“kenapa bisa terjadi, Jiwoon sakit apa ?”

“aku….”

Clekk, pintu ruang UGD terbuka dan seorang dokter yeoja keluar dari sana, dia masih mengenakkan baju operasi, aku menatapnya heran, apa Jiwoon baru saja dioperasi ?

“nama yang suami Jiwoon-ah ?”

Aku hendak mengatakan kalau kami hanya berteman, namun belum sempat kata-kata itu terlontar, tiba-tiba saja hyung memotongnya.

“Aku suaminya…” ucap hyung seketika.

Aku sangat terkejut, kenapa hyung berbohong ? hatiku serasa teriris dengan pisau yang sangat tajam ketika mendengar ucapan hyung barusan, dan mataku, mataku serasa sudah tidak bisa membendung air mata yang akan keluar dari pelupuk mataku. Apa aku merasa cemburu ? harusnya aku sadar, Jiwoon tidak mungkin bisa menjadi milikku, dia milik hyung, jadi untuk apa aku cemburu ?

 “kalau begitu, ikut aku” ucap dokter yeoja yang membangunkanku dari lamunanku.

“baik, dokter”

Mereka berdua pergi meninggalkanku yang masih termenung di depan pintu UGD. Aku kemudian duduk di kursi yang terjajar rapi di depan ruang tersebut. Aku memegangi kepalaku yang terasa berat.

———— Minwoo POV End ————

———— Youngmin POV ————

Sudah hampir 4 bulan aku meninggalkan Jiwoon dirumah Minwoo, sebenarnya aku sangat merindukannya, aku ingin memeluknya, membelai rambutnya, dan mencium calon bayiku. Tapi itu tidak mungkin aku lakukan, akhir-akhir ini polisi Seoul terus mencari-cariku, jika aku datang pada Jiwoon, dia pasti akan terkena jetahnya, aku tidak ingin Jiwoon berurusan dengan polisi, cukup aku saja.

Namun disamping itu semua, sebenarnya aku, selama aku pergi jadi samping Jiwoon, diam-diam aku sering bertemu dengan mantanku, Sora. Kalau Jiwoon mengetahui ini semua hatinya pasti akan terluka, tapi aku juga tidak bisa membohongi diriku sendiri bahwa aku juga masih mencintai Sora, bagiku, ruang Sora dihatiku jauh lebih besar daripada ruang untuk Jiwoon. Sora terlalu berarti untukku, dia yang pernah menyembuhkan luka di hatiku ketika appaku dengan teganya mengusirku dan eommaku dari rumah hanya karena masalah sepele. Dia juga yang pernah menyewakan apartemen untuk tempat tinggalku dan juga eomma untuk sementara hingga eomma mampu membuat rumah sendiri di Jepang hingga sekarang.

Sekarang, aku justru bingung dengan diriku sendiri. Ketika aku hampir mencintai Jiwoon sepenuhnya, tiba-tiba saja Sora muncul kembali, setelah sekian lama tak bertemu. Kenapa, padahal Jiwoon sudah terlalu baik padaku, bahkan sekarang dia sedang mengandung anakku, apa tega aku meninggalkannya dalam keadaan seperti itu ?

Hari ini, seperti biasa Sora datang ke tempat persembunyianku di pinggiran kota Busan. Dia seolah sudah tak takut lagi pada pihak kepolisian, seandainya mereka mengetahui kelakuan Sora diluar kantornya, dia berani berhubungan dengan seorang kriminal. Semakin lama, kami semakin dekat, seakan hubungan kami yang sudah lama lama mati, kini mulai tumbuh subur kembali. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi denganku, kenapa aku semakin merespon tingkahnya padahal awalnya aku jelas-jelas sangat membencinya ?, dan Sora, kenapa dia juga demikian, apa sebenarnya dia masih menyukaiku ?

Hampir 2 jam kami terus berbicara panjang lebar. Kami serasa makin akrab satu sama lain, memang benar, aku semakin yakin kalau aku memang masih menyukai Sora, yeojachinguku waktu SMA.

Disela-sela kemesraan kami, tiba-tiba ponselku berbunyi, ternyata Minwoo yang memanggil, beberapa kali aku biarkan saja, namun dia tak berhenti juga, akhirnya dengan terpaksa akupun mengangkatnya. Alangkah terkejutnya ketika Minwoo mengatakan kalau Jiwoon tengah sakit, seketika aku bangkit dan pergi meninggalkan Sora begitu saja di rumahku. Saat itu, yang terpikirkan olehku hanyalah kesehatan Sora dan bayiku, seketika pikiranku pada Sora seakan menghilang terbawa angin.

aku banting setir BMW R-3 ku dengan sangat cepat, berharap untuk cepat sampai di rumah sakit tempat Jiwoon dirawat. Saat aku baru saja sampai, aku langsung melihat Minwoo ada di depan ruang UGD, dia terlihat sangat khawatir. Aku menghampirinya, dan tak lama kemudian dokter yang menangani Jiwoon keluar, dia menanyakan siapa suami Jiwoon ? sontak saja aku langsung menjawabnya, ya, aku pikir karena aku ayah dari bayinya, maka tidak masalah kalau aku berpura-pura menjadi suaminya. Di ruangan dokter yeoja itu, kami berbicara banyak.

“benarkah kau suami Jiwoon ?”

“ne, dokter. Memangnya ada apa ?”

“seharusnya anda bisa menjaga Jiwoon, jangan sampai dia mengalami stress atapun jatuh sakit seperti saat ini. Ini berpengaruh pada kondisi kehamilannya”

“mian dokter, memang apa yang sudah terjadi dengan Istriku, dokter ?”

“istrimu itu hampir keguguran karena terlalu banyak pikiran dan stress, sekarang kandungannya sedang lemah, sekali lagi dia mengalami pendarahan, bayimu tidak akan tertolong lagi. …”

Deg… jantungku serasa berhenti ketika aku mendengar ucapan dokter barusan, aku tidak rela kalau harus kehilangan calon anakku. Aku semakin merasa bersalah padanya, dulu karena aku pula dia harus mengalami sakitnya luka tembak, dan sekarang karena aku pula dia harus terbaring lemah di rumah sakit dengan selang-selang kehidupan yang tak stabil. Aku benar-benar sedih, seharusnya aku tidak bersenang-senang diluar sana, seharusnya aku menjagamu Jiwoon, maafkan aku chagi, aku sangat menyesal sudah meninggalkanmu berbulan-bulan hanya untuk bersenang senang dengan mantan pacarku.

Diruangan yang terang dan hangat ini, aku dekapkan wajahku ketangannya, begitu lemah dan tak berdaya. Matanya tetap terpejam, nafasnya begitu pelan dengan infus yang melingkar di lubang hidungnya. Wajahnya pucat, dan lingkar matanya sedikit menghitam. Aku merasa sangat kasihan padanya…

“chagiya… maafkan Oppa yang selama ini meninggalkanmu tanpa kabar, Oppa sungguh menyesal…” tangisku seketika pecah saat aku menatap wajahnya yang penuh kedamaian, seakan melodi chord yang pelan dan penuh emosi mulai terdengar di telingaku. Ku usap lembut pipinya yang terlihat lebih tak berisi dari terakhir aku mencubitnya.

To be Continue >>>

  1. 4. [Boyfriend FF Library] It’s War – Death to Love « Limit Light | Apple Peace | Noah's Ark | Nesada 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: